Sukseskan Proyek Bendungan Jenelata, Delapan Desa Segera Ditenggelamkan

oleh -

JURNALPENA.CO.ID, MAKASSAR – Pembangunan bendungan Jenelata yang berada di dua kecamatan yakni, Kecamatan Manuju dan Bungayya Kabupaten Gowa nantinya akan menenggelamkan delapan desa.

Kepala Dinas Permukiman, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimta ) Gowa, Abdullah Sirajuddin mengatakan, setelah studi lapangan dilakukan pihak Balai Besar Pompengan, ternyata ada pertambahan jumlah desa yang menjadi bagian pembangunan bendungan.

“Awalnya hanya desa-desa di Kecamatan Manuju, maka saat ini pembangunan bendungan juga berencana mengambil desa di kecamatan Bungayya dengan total
Perkiraan kebutuhan luas lahan memcapai 1.702,81 ha,” ungkapnya, Selasa (7/5/2019).

Kedelapan desa tersebut untuk kecamatan Bungayya masing-masing, Desa Bissoloro, Desa Bontomanai, Desa Pangngempang dan Desa Ranaloe. Kemudian Kecamatan Manuju yakni Desa Tanah karaeng, Desa Moncongloe, Desa Pattallikang, dan Desa Bilalang.

Menurut Sirajuddin, total luasan 1.702,81 ha itu akan dimanfaatkan untuk lahan konstruksi 70,83 ha, untuk quarry/akses dll 199,80 ha, fasilitas umum 2,23 ha, kebutuhan lahan untuk genangan 1.220,60 ha, dan kebutuhan lahan untuk greenbelt, 209,35 ha.

“Pembebasan lahan segera dilakukan, pasca verivikasi yang akan dilanjutkan dengan pengukuran ulang,”katanya.

Sementara itu, Bupati Gowa, Adnan Purictha Ichsan mengaku telah melakukan sosialisasi dengan masyarakat mengenai rencana pembangunan bendungan Jenelata. Pemkab Gowa siap memfasilitasi untuk bisa mempercepat pembebasan lahan milik warga yang terkena proyek pembangunan bendungan Je’nelata.

Untuk itu, dia meminta masyarakat tidak menjual lahan atau tanahnya kepada pihak lain selain pemerintah terkait proses pembebasan lahan untuk mega proyek Bendungan Jenelata. Apalagi pemerintah telah menyiapkan anggaran pembebasan lahan sebesar Rp460 miliar dengan harapan dapat segera diserap.

“Yakinlah pemerintah akan membeli lahan atau tanah bapak ibu yang akan jadi wilayah pembangunan bendungan dengan harga yang wajar. Apalagi, saat ini sedang dilakukan taksasi oleh pihak appresial untuk menentukan harga tanah,” tegasnya.

“Untuk anggaran pembangunan bendungan dibutuhkan sekitar Rp3 Triliun melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019. Anggaran ini sudah termasuk anggaran pengerjaan bendungan dan pembebasan lahan,” ujarnya.

Pembangunan Bendungan Je’nelata ditargetkan rampung pada 2022 dengan kapasitas tampung volume waduk 246 juta meter kubik (m2) atau dibawah dari pada Bendungan Bili-bili sebesar 370 juta m3. Tak hanya itu, bendungan ini akan memberikan suplay di 3 daerah irigasi atau sebesar 23.690 Ha sehingga membantu suplay air dari Bendungan Bili-bili.

Bendungan Je’nelata ini juga mampu mereduksi banjir dari 1800 m2 per detik menjadi 760 m3 per detik atau mengurangi 50 hingga 60 persen reduksi air sehingga dapat dikendalikan. Tentunya, bendungan inilah yang akan dimaksimalkan menjadi pengendali banjir kedepan.

“Jika bendungan ini terbangun pastilah manfaatnya memang sangat besar dirasakan masyarakat,” tutupnya. (*a)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *